Tafsir Tarbawi
ابسم الله الرحمن الرحيم
ما كان لبشر أن يؤتيه الله الكتاب و الحكم و النبوة ثم
يقول للناس كونواعبادا لي من دون الله و لكن كونوا ربانيين بما كنتم تعلمون الكتاب
و بما كنتم تدرسون ( ال عمران :79)
Sabab Nuzul Ayat:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.
Beliau berkata:”:”Ketika para pendeta Yahudi dan Nashrani dari delegasi Najran
berkumpul bersama Rasulullah saw. dan beliau mengajak mereka masuk Islam berkata Abu Rafi’ al-Qurdhi:”Apakah engkau
Muhammad menghendaki kami menyembahmu sebagaimana kaum nashrani menyembah Isa
ibni Maryam?”.Seorang lelaki Najran beragama Nashrani bernama Al-Rais juga berakata:”Itukah yang kau kehendaki dari kami Muhammad dan kepada itu
pula kau mengajak kami?:.Rasulullah nmenjawab:”Kami berlindung kepada Allah
dari menyembah selain kepada-Nya atau menyuruh menyembah kepada selain Allah
.Allah tidak mengutusku untuk itu dan tidak pula memerintahku pada hal tersebut.Kemudian
Allah menurunkan ayat di atas
Penjelasan Singkat
Yang dimaksud dengan kata” al-Kitab” dalam
ayat di atas adalah kiatab suci baik Taurat,Injil,atau pun al-Qur’an.Sedangkan
kata “ al-hukma” terdapat bebertapa penafsiran,di antaranya: :Pelajaran,akurat
dan tepat,solusi yang pas,kemampuan memilah yang benar dan salah,pemahaman dan
pengetahauan,kemampuan menakar yang baik,mengaatur dan bertindak, dan ada yang
mengartikannya dengaan sunnah.Dari bergai pendapat ini bisa ditarik kesimpulan
bahwa hikmah adalah kemampuan memahami kitab suci dan mengaplikasikannya dalam
kehidupan realitas.
Kata” Rabbaniyyin “ merupakan plural dari kata
rabbani.Menurut Ibnu Abbas,kata ini berarti orang yang bijak,berilmu luas dan
tabah.Menurut yang lainnya,rabbani berarti orang yang mengikuti jalan Tuhan dan
selalu menyandarkan dirinya kepada-Nya dengan kesempurnaan ilmu yang dihiasi
dengan amal.Ada lagi yang menafsirkannya bahwa ia berasal dari kata “rubban”
yang berarti:orang yang mendidik,melakukan perbaikan dan mengurusi segala
persoalan umatnya.Dari berbagai penafsiran kata ini, dapat disimpulkan bahwa
kata rabbani berarti orang yang mengamalkan ilmu yang didapat kepada
masyarakatnya serta peduli terhadap segala persoalan yang dihadapi mereka.
Dari penjelasan kosa kata di atas, wajar kalau
ayat ini menyatakan bahwa tidak benar
dan tidak pantas bagi manusia yang diberi Kitab Suci,al-hukma dan nubuwwah
kemudian mengajak manusia lain untuk menyembah dirinya selain Allah SWT. karena
seharusnya ia bersyukur kepada-Nya dan bukan melakukan kekufuran terhadap Sang
Pemberi nikmat.
Jika ayat
ini dikorelasikan dengan sebab nuzul ayat di atas,maka ayat ini merupakan
ajakan kepada Ahlu Kitab untuk kembali ke jalan yang benar ( tauhid murni) yang
diusung oleh agama Islam,dan agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak ada
dasarnya,mentakwil ayat sesuai hawa nafsunya,apalagi kemudian mengasosiasikan
pandangannya kepada firman Allah.Suatu sikap yang keterlaluan,apalagi
menganggap seorang manusia ( Isa al-Masih)sebagai tuhan.
Nabi Muhammad
saw.menyakini dan meyadari sepenuh hati bahwa dirinya adalah seorang hamba ,dan
Allah sebagai Tuhannya, yang pada-Nya seluruh hamba-hamba menghadapkan ubudiyah
dan ibadahnya.Oleh karenanya tak mungkin beliau mengatakan kepada ummatnya:”
jadilah kalian hamba-hambaku, akan tetapi beliau akan mengatakan :”Jadilah
kalian hamba-hamba Rabbani (yang selalu mengasosiasikan dirinya sebagai hamba
dan penyembah Allah semata),mengarahkan seluruh ibadah kepada-Nya,mengambil way
of life dari-Nya dari hasil membaca dan menelaah al-Qur’an al-Karim.( lihat: Fi
Dzilal al-Qur’an:1/419).
Penegasan Nabi Muhammad saw. Selaku hamba Allah
SWT. Kepada para Rabbi Yahudi dan Pendeta Kristen Najran ini .merupakan
penolakan secara tegas terhadap akidah mereka yang menuhankan Isa al-Masih.Para
Nabi dan Rasul termasuk Isa as.tidak mungkin mengaku dan menyatakan dirinya
sebagai tuhan.
Kata “ allama” bisa berasal dari
kata”’alama” yang kalau dirubah struktur katanya menajadi “allama” maka artinya
adalah memberi identitas kepada sesuatu agar dikenali.Kalau dari “alima” maka
kata “’allama” berarti menjadikaan orang tidak tahu menjadi tahu”.Dengan demikian
kata ini menunjukkan adanya proses yang rutin dan upaya yang berkesinambungan
sehingga berpengaruh kepada peserta didik.
Kata “darasa”
berarti sesuatu yang hilang tetapi bekasnya ada.Orang dikatakan belajar apabila
bekasnya ada , bekas itu berupa hafalan
/ingatan yang membekas dari apa yang dipelajari.Ini berarti bahwa proses
pembelajaan harus ada bekasnya dalam diri peserta didik.
Dari penjelasan dua kosa kata di atas ,dapat
ditarik kesimpulan bahwa ayat ini menerangkan ciri khas hamba rabbani yang
selalu memadukan dan menselaraskan antara dua aktifitas,yaitu: belajar dan
mengajar . Seorang Rabbani harus memadukan antara ilmu yang didapat dengan amal
perbuatannya, serta kepedulian terhadap persoalan-persoalan masyarakatnya
dengan cara mendidik dan mengajarkan ilmunyaContoh manusia-mmanusia Rabbani
yang memiliki sifat-sifat khas seperti ini, bisa kita lihat dalam riwayat
perjalanan hidup para Nabi dan Rasul serta orang-orang shaleh, seperti: Luqman
al-Hakim,Dzul Qarnain ,Ashabu al-Kahfi dan lain-lain yang diceritakan dalam
al-Qur’an al-Karim.
Muatan dan Pesan Ayat
Ayat di atas memuat beberapa pesan dan pelajaran
sebagai berikut:
- Seorang Nabi dan Rasul serta orang-orang shaleh yang bijak tidak mungkin mengajak manusia untuk mempertuhankan dirinya, karena hal ini bersebrangan dengan missi asasi yang diembannya,yang tak lain memurnikan tauhid kepada Allah SWT.,mendidik dan mengayomi mereka;
- Ilmu yang kita peroleh seharusnya dijadikan sarana untuk memperkokoh keimanan dan memperkuat aspek pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari serta kepedulian terhadap lingkungan masyarakat kita;
- Kata tua’allim dan tadrusun yang memakai kata kerja present ( fi’il mudhari’) menunjukkan pengertian makna tajaddud( pembaruan) yang berarti bahwa proses belajar dan mengajar harus selalu dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus secara konstan sehingga kemampuan teoritis dan aplikatif selalu bertambah dan berkembang;
- Memberikan motivasi agar umat Islam selalu bersikap peduli terhadap lingkungananya yang diantaranya dengan cara mengajarkan ilmu yang didapatinya kepada mereka;
- Proses belajar yang diikuti dengan aktifitas mengajar merupakan sarana paling baik dan efektif untuk memantapkan dan mengokohkan keilmuan seseorang serta memberi motivasi untuk selalu menambah wawasan keilmuan;
- Tujuan dari aktivitas belajar dan mengajar adalah untuk menghantarkan seorang muslim menjadi hamba yang rabbani(ta’at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.) dan peduli terhadap lingkungannya;
- Ayat ini mengiisyaratkan bahwa pelajar atau pun guru seharus selalu meniru akhlak Allah SWT. dalam bertutur kata,berprilaku dan beramal. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar