Senin, 13 Agustus 2012



Tafsir Tarbawi
ابسم الله الرحمن الرحيم

ما كان لبشر أن يؤتيه الله الكتاب و الحكم و النبوة ثم يقول للناس كونواعبادا لي من دون الله و لكن كونوا ربانيين بما كنتم تعلمون الكتاب و بما كنتم تدرسون ( ال عمران :79)

Sabab Nuzul Ayat:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Beliau berkata:”:”Ketika para pendeta Yahudi dan Nashrani dari delegasi Najran berkumpul bersama Rasulullah saw. dan beliau mengajak mereka masuk Islam  berkata Abu Rafi’ al-Qurdhi:”Apakah engkau Muhammad menghendaki kami menyembahmu sebagaimana kaum nashrani menyembah Isa ibni Maryam?”.Seorang lelaki Najran beragama Nashrani bernama Al-Rais  juga berakata:”Itukah yang kau  kehendaki dari kami Muhammad dan kepada itu pula kau mengajak kami?:.Rasulullah nmenjawab:”Kami berlindung kepada Allah dari menyembah selain kepada-Nya atau menyuruh menyembah kepada selain Allah .Allah tidak mengutusku untuk itu dan tidak pula memerintahku pada hal tersebut.Kemudian Allah menurunkan ayat di atas
                                                         
Penjelasan Singkat
            Yang dimaksud dengan kata” al-Kitab” dalam ayat di atas adalah kiatab suci baik Taurat,Injil,atau pun al-Qur’an.Sedangkan kata “ al-hukma” terdapat bebertapa penafsiran,di antaranya: :Pelajaran,akurat dan tepat,solusi yang pas,kemampuan memilah yang benar dan salah,pemahaman dan pengetahauan,kemampuan menakar yang baik,mengaatur dan bertindak, dan ada yang mengartikannya dengaan sunnah.Dari bergai pendapat ini bisa ditarik kesimpulan bahwa hikmah adalah kemampuan memahami kitab suci dan mengaplikasikannya dalam kehidupan realitas.

Kata” Rabbaniyyin “ merupakan plural dari kata rabbani.Menurut Ibnu Abbas,kata ini berarti orang yang bijak,berilmu luas dan tabah.Menurut yang lainnya,rabbani berarti orang yang mengikuti jalan Tuhan dan selalu menyandarkan dirinya kepada-Nya dengan kesempurnaan ilmu yang dihiasi dengan amal.Ada lagi yang menafsirkannya bahwa ia berasal dari kata “rubban” yang berarti:orang yang mendidik,melakukan perbaikan dan mengurusi segala persoalan umatnya.Dari berbagai penafsiran kata ini, dapat disimpulkan bahwa kata rabbani berarti orang yang mengamalkan ilmu yang didapat kepada masyarakatnya serta peduli terhadap segala persoalan yang dihadapi mereka.
Dari penjelasan kosa kata di atas, wajar kalau ayat  ini menyatakan bahwa tidak benar dan tidak pantas bagi manusia yang diberi Kitab Suci,al-hukma dan nubuwwah kemudian mengajak manusia lain untuk menyembah dirinya selain Allah SWT. karena seharusnya ia bersyukur kepada-Nya dan bukan melakukan kekufuran terhadap Sang Pemberi nikmat.

Jika  ayat ini dikorelasikan dengan sebab nuzul ayat di atas,maka ayat ini merupakan ajakan kepada Ahlu Kitab untuk kembali ke jalan yang benar ( tauhid murni) yang diusung oleh agama Islam,dan agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak ada dasarnya,mentakwil ayat sesuai hawa nafsunya,apalagi kemudian mengasosiasikan pandangannya kepada firman Allah.Suatu sikap yang keterlaluan,apalagi menganggap seorang manusia ( Isa al-Masih)sebagai tuhan.
            Nabi Muhammad saw.menyakini dan meyadari sepenuh hati bahwa dirinya adalah seorang hamba ,dan Allah sebagai Tuhannya, yang pada-Nya seluruh hamba-hamba menghadapkan ubudiyah dan ibadahnya.Oleh karenanya tak mungkin beliau mengatakan kepada ummatnya:” jadilah kalian hamba-hambaku, akan tetapi beliau akan mengatakan :”Jadilah kalian hamba-hamba Rabbani (yang selalu mengasosiasikan dirinya sebagai hamba dan penyembah Allah semata),mengarahkan seluruh ibadah kepada-Nya,mengambil way of life dari-Nya dari hasil membaca dan menelaah al-Qur’an al-Karim.( lihat: Fi Dzilal al-Qur’an:1/419).
Penegasan Nabi Muhammad saw. Selaku hamba Allah SWT. Kepada para Rabbi Yahudi dan Pendeta Kristen Najran ini .merupakan penolakan secara tegas terhadap akidah mereka yang menuhankan Isa al-Masih.Para Nabi dan Rasul termasuk Isa as.tidak mungkin mengaku dan menyatakan dirinya sebagai tuhan.

Kata “ allama” bisa berasal dari kata”’alama” yang kalau dirubah struktur katanya menajadi “allama” maka artinya adalah memberi identitas kepada sesuatu agar dikenali.Kalau dari “alima” maka kata “’allama” berarti menjadikaan orang tidak tahu menjadi tahu”.Dengan demikian kata ini menunjukkan adanya proses yang rutin dan upaya yang berkesinambungan sehingga berpengaruh kepada peserta didik.
 Kata “darasa” berarti sesuatu yang hilang tetapi bekasnya ada.Orang dikatakan belajar apabila bekasnya ada , bekas itu  berupa hafalan /ingatan yang membekas dari apa yang dipelajari.Ini berarti bahwa proses pembelajaan harus ada bekasnya dalam diri peserta didik.
Dari penjelasan dua kosa kata di atas ,dapat ditarik kesimpulan bahwa ayat ini  menerangkan ciri khas hamba rabbani yang selalu memadukan dan menselaraskan antara dua aktifitas,yaitu: belajar dan mengajar . Seorang Rabbani harus memadukan antara ilmu yang didapat dengan amal perbuatannya, serta kepedulian terhadap persoalan-persoalan masyarakatnya dengan cara mendidik dan mengajarkan ilmunyaContoh manusia-mmanusia Rabbani yang memiliki sifat-sifat khas seperti ini, bisa kita lihat dalam riwayat perjalanan hidup para Nabi dan Rasul serta orang-orang shaleh, seperti: Luqman al-Hakim,Dzul Qarnain ,Ashabu al-Kahfi dan lain-lain yang diceritakan dalam al-Qur’an al-Karim.
Muatan dan Pesan Ayat
Ayat di atas memuat beberapa pesan dan pelajaran sebagai berikut:
  1. Seorang Nabi dan Rasul serta orang-orang shaleh yang bijak tidak mungkin mengajak manusia untuk mempertuhankan dirinya, karena hal ini bersebrangan dengan missi asasi yang diembannya,yang tak lain memurnikan tauhid kepada Allah SWT.,mendidik dan mengayomi mereka;
  2. Ilmu yang kita peroleh seharusnya dijadikan sarana untuk memperkokoh keimanan dan memperkuat aspek pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari serta kepedulian terhadap lingkungan masyarakat kita;
  3. Kata tua’allim dan tadrusun yang memakai kata kerja present ( fi’il mudhari’) menunjukkan pengertian makna tajaddud( pembaruan) yang berarti bahwa proses belajar dan mengajar harus selalu dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus secara konstan sehingga  kemampuan teoritis dan aplikatif selalu bertambah dan berkembang;
  4. Memberikan motivasi agar umat Islam selalu bersikap peduli terhadap lingkungananya yang diantaranya dengan cara mengajarkan ilmu yang didapatinya  kepada mereka;
  5. Proses belajar yang diikuti dengan aktifitas mengajar merupakan sarana paling baik dan efektif untuk memantapkan dan mengokohkan keilmuan seseorang serta memberi motivasi untuk selalu menambah wawasan keilmuan;
  6. Tujuan dari aktivitas belajar dan mengajar adalah untuk menghantarkan seorang muslim menjadi hamba yang rabbani(ta’at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.) dan peduli terhadap lingkungannya;
  7. Ayat ini mengiisyaratkan bahwa pelajar atau pun guru seharus selalu meniru akhlak Allah SWT. dalam bertutur kata,berprilaku dan beramal. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar